Februari 02

LAPORAN BEST PRACTICE BAHASA INDONESIA

Diposting Oleh operatorsmk | Kategori Pendidikan

 LAPORAN BEST PRACTICE

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIDKAN UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG

PENDIDIKAN PROFESI GURU ANGKATAN 3

2023 

 

HALAMAN PENGESAHAN

Pengembangan dalam bentuk Best Practice berjudul “Penerapan Model Problem Based Learning (PBL) Berbantuan Media Video Visual untuk Meningkatkan Hasil Belajar dalam Pembelajaran Membaca Teks Cerpen pada Peserta Didik Kelas X di SMK An Najah “

Nama                                     : Siti Wahyuningsih

Asal Sekolah                           : SMK An Najah

 

Telah disetujui dan disahkan oleh:

 Kepala sekolah 

Mohamad Aniq Hariri, SH., M.Pd. 

 
   

 

 

KATA PENGANTAR

Puji Syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberi Rahmat, Taufiq serta hidayahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan Best Pratice ini dengan lancar. Laporan Best Pratice ini berjudul “Penerapan Model Problem Based Learning (PBL) Berbantuan Media Video Visual untuk Meningkatkan Hasil Belajar dalam Pembelajaran Membaca Teks Cerpen pada Peserta Didik Kelas X di SMK An Najah “. Laporan ini ditulis untuk memenuhi salah satu syarat menyelesaikan rangkaian Program Pendidik Profesi Guru dalam jabatan kategori 1 gelombang 3 tahun 2023.

Penulis menyadari bahwa penulisan laporan Best Pratice ini tidak akan bisa selesai tanpa bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu dengan segala ketulusan hati, penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

  1. Ibu Dr. Aida Azizah,M.Pd. selaku Dosen Pembimbing yang telah memberikan bimbingan dan motivasi agar kegiatan senantiasa berjalan dengan baik.
  2. Bapak Sholikul Hadi , M.Pd., selalu Guru Pamong yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan dalam kegiatan Pendidikan Profesi Guru dalam jabatan kategori 1 gelombang 3.
  3. Keluarga besar SMK An Najah yang sudah senantiasa memberikan dukungan
    1. Keluarga, sahabat dan rekan-rekan peserta Program Pendidikan Profesi Guru dalam jabatan kategori 1 gelombang 3 tahun 2023 pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di LPTK Universitas Islam Sultan Agung.

 

Penulis telah berusaha menulis laporan Best Pratice ini dengan sebaik-baiknya, namun penulis menyadari keterbatasan yang ada. Sehingga penulisan laporan ini tentu masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak untuk kesempurnaan laporan ini.

Harapan penulis, semoga laporan Best Pratice ini dapat bermanfaat bagi semua pihak tanpa terkecuali. Aamiin

 

Pati, 29 Januari 2024

Penulis

 

 

 

BEST PRACTICE

Penerapan Model Problem Based Learning (PBL) Berbantuan Media Video Visual untuk Meningkatkan Hasil Belajar dalam Pembelajaran Membaca Teks Cerpen pada Peserta Didik Kelas X SMK An Najah

 

A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN

Pembelajaran merupakan suatu proses yang dilakukan guru dan peserta didik di sekolahan maupun di tempat lain. Proses belajar bukanlah proses yang instan. Hasil belajar tidak dapat dilihat dalam sekejap mata. Jangan terburu-buru menghakimi peserta didik dengan mengatakan bahwa peserta didik malas, tidak belajar dan memarahinya di depan kelas. Karena hal seperti itu merupakan salah satu kesalahan guru dalam proses pembelajaran. Adapun faktor peserta didik belum memahami materi dalam pembelajaran adalah:

a)      Peserta didik memiliki kesulitan belajar

b)      Metode belajar tidak sesuai dengan karakter peserta didik

c)      Model pembelajaran yang digunakan belum sesuai

d)      Peserta didik memiliki masalah pribadi

Salah satu materi dalam pelajaran Bahasa Indonesia adalah cerpen. Menurut Sayuti (2000:9) cerpen merupakan karya prosa fiksi yang dapat selesai dibaca dalam sekali duduk dan ceritanya cukup dapat membangkitkan efek tertentu dalam diri pembaca. Melalui membaca cerpen, peserta didik bisa mendapatkan makna tersurat dan tersirat. Makna tersebut bisa berupa pengalaman hidup termasuk nilai positif di dalamnya serta amanat yang terkandung di dalam sebuah cerpen.

Akan tetapi hasil pembelajaran pada membaca teks cerpen masih rendah. Hal ini karena banyak peserta didik yang masih kurang minat membaca. Berdasarkan hasil pengamatan, kurangnya minat baca peserta didik kelas X karena materinya banyak bersifat teksbook dan teks cerpen relatif panjang. Krisdayanti dan Kusmariyanti (2020) menyatakan bahwa rendahnya minat baca peserta didik salah satunya disebabkan oleh penggunaan metode pembelajaran yang kurang variatif. Hal tersebut juga dikemukakan Sudarsana (2014) bahwa model mengajar guru berpengaruh dalam pencapaian hasil belajar. Guru belum menerapkan model pembelajaran inovatif dan variatif.

Berdasarkan pada permasalahan yang telah dipaparkan, praktik terbaik (best-practice) perlu dilakukan untuk mengatasi hal tersebut. Pemilihan model dan media yang tepat perlu direncanakan agar pembelajaran inovatif dapat tercapai dengan tepat. Oleh karena itu, dari hasil kajian literatur dan wawancara, penulis yang berperan sebagai guru mendesain pembelajaran inovatif dengan menggunakan model PBL dan media video visual running teks.

Cahyaningsih dan Gufron (2016) menjelaskan bahwa PBL adalah model pembelajaran yang berpusat pada siswa yang mengelaborasikan pemecahan masalah dengan pengalaman sehari- hari. Model PBL berpengaruh terhadap karakter kreatif siswa dan model PBL berpengaruh terhadap karakter berpikir kritis siswa. Menurut Warsono (2013:55), langkah-langkah dalam melaksanakan PBL ada 5 fase yaitu

(1) mengorientasi siswa pada masalah; (2) mengorganisasi siswa untuk meneliti; (3) membantu investigasi mandiri dan berkelompok; (4) mengembangkan dan menyajikan hasil karya; (5) menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Running text atau disebut juga sebagai tulisan berjalan ini merupakan salah satu media elektronik yang sangat berguna untuk menyampaikan pesan dan informasi. Dalam pengembangannya, display running text kini hadir tidak hanya menampilkan rangkaian tulisan berjalan saja, tetapi juga bisa menampilkan gambar atau logo (Simanjutak:2018). Oleh karena itu, diharapkan terjadi peningkatan minat baca siswa dalam pembelajaran membaca cerpen menggunakan model problem based learning dan media video visual (running teks).

Praktik ini penting dilakukan karena guru perlu melakukan perubahan dan inovasi dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran membaca teks cerpen agar proses pembelajaran yang dilakukan

 

guru lebih menarik, kreatif, dan bermakna. Harapan selanjutnya, siswa semakin senang dan semangat untuk membaca, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Selain bermanfaat untuk meningkatkan kualitas hasil pembelajaran, praktik baik ini juga dapat dijadikan referensi bagi guru lain agar dapat lebih berinovasi dalam pembelajaran.

Untuk mencapai tujuan tersebut, terdapat beberapa tantangan yang dihadapi oleh guru, yaitu: 1) Beberapa Peserta didik mengalami kesulitan dalam menentukan struktur terutama pada bagian abstrak dan orientasi. 2) Peserta didik juga mengalami kebingungan dengan akhir cerita yang menggantung. 3) Karena padatnya kegiatan disekolah, akhirnya ada 2 peserta PPG dalam jabatan yang melakukan PPL di hari dan jam yang sama, padahal petugas yang merekam hanya ada satu.

Praktik pembelajaran inovatif ini melibatkan banyak pihak, yaitu:1) Dosen dan guru pamong memberikan arahan dan masukan kepada guru dalam proses pelaksanaan PPL. 2) Rekan sejawat senior sebagai rekan diskusi yang memberi masukan terkait pelaksanaan praktik pembelajaran inovatif; 3) Peserta didik sebagai subjek didik yang mengalami langsung pembelajaran inovatif ini; 4) Rekan sejawat dalam hal ini adalah rekan guru bidang IT yang membantu guru dalam menyiapkan peralatan yang digunakan untuk pengambilan dokumentasi PPL.

 

BAB II PELAKSANAAN KEGIATAN

 

  1. A.    Tujuan dan Sasaran

Peserta didik mampu mengevaluasi informasi berupa gagasan,pikiran, pandangan, arahan atau pesan dari berbagai jenis teks dari teks visual dan audiovisual untuk menganalisis makna yang tersurat dan tersirat dalam elemen membaca dan memirsa.

“ Penerapan Model Problem Based Learning (PBL) Berbantuan Media Video Visual untuk Meningkatkan Hasil Belajar dalam Pembelajaran Membaca Teks Cerpen pada Peserta Didik Kelas X SMK An Najah “

 

B.     Bahan/ Materi Kegiatan

Bahan atau materi yang digunakan dalam kegiatan ini diambil dari materi kelas X mata Pelajaran Bahasa Indonesia.

Elemen: Membaca dan Memirsa

Peserta didik mampu mengevaluasi informasi berupa gagasan,pikiran, pandangan, arahan atau pesan dari berbagai jenis teks dari teks visual dan audiovisual untuk menganalisis makna yang tersurat dan tersirat.

 

 

a.     Orientasi Masalah


Pertemuan I:

 

  1. Peserta didik mengamati tayangan teks cerpen yang ditampilkan oleh guru.
  2. Peserta didik menjawab pertanyaan terkait tayangan yang ditampilkan.
  3. Peserta didik membentuk kelompok.

 

b.     Mengorganisasikan Peserta Didik untuk Belajar

  1. Peserta didik menerima sebuah LKPD
    1. Setiap anggota kelompok bersama-sama berdiskusi dalam menganalisis makna tersirat dan tersurat serta mengevaluasi informasi dalam teks cerpen

 

c.      Membimbing Penyelidikan

  1. Peserta didik dibimbing guru jika mengalami kesulitan dalam berdiskusi, guru juga menilai sikap dan rubrik yang telah disampaikan

 

d.     Mengembangkan dan Menyajikan Hasil Karya

  1. Peserta didik menggabungkan informasi dari kelompoknya
    1. Perwakilan dari masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusi tentang menganalisis makna tersirat dan tersurat serta mengevaluasi informasi pada teks cerpen di depan kelas

 

e.     Menganalisis dan Mengevaluasi Proses PemecahanMasalah

Peserta didik menyimpulkan hasil diskusi dan materi pembelajaran.

 

C.     Alat/ Instrumen

Sarana dan prasarana

  1. Sarana (alat/bahan)   : Laptop, Android, LCD Proyektor, gunting dan lain sebagainya
    1. Prasarana                  :    Power point, video pembelajaran/youtube, google form, referensi yang relevan lainnya
    2. Sumber bahan Ajar  : Bahasa Indonesia, Kelas X, Buku Guru Bahasa Indonesia Kelas X.

v Sedangkan instrument yang digunakan dalam PPL ini adalah:

  1. Asesmen sebelum pembelajaran (diagnostik)
  • Asesmen diagnostik non kognitif :

Untuk mengetahui kondisi peserta didik, dilakukan asesmen diagnostik non kognitif dengan mengajukan beberapa pertanyaan secara lisan seperti :

  1. Bagaimanakah kabar kalian hari ini?
  2. Bagaimana perasaan kalian hari ini? Apakah selalu semangat belajar?
    1. Apakah kalian siap menerima pembelajaran hari ini?
  • Asesmen diagnostic kognitif

Merupakan asesmen diagnosis yang bisa dilaksanakan untuk awal ketika guru akan mulai memperkenalkan sebuah topik pembelajaran baru melalui pertanyaan pemantik

  1. Asesmen selama proses pembelajaran (formatif) melalui ulangan harian dan tes sumatif melalui penilaian ketrampilan.

 

D.     Waktu dan Tempat Kegiatan

PPL aksi ini dilaksanakan pada

Hari/Tanggal                 : Selasa, 23 Januari 2024

Waktu                           : 08.00 WIB – 09.30 WIB

Tempat                          : SMK An Najah

 

BAB III PEMBAHASAN

Tantangan yang muncul sebelum maupun selama proses implementasi perlu dihadapi dengan

strategi – strategi agar penyelesaian masalah berjalan optimal. 1) Guru melakukan pendampingan penuh kepada peserta didik dalam pembelajaran sehingga ketika ada kesulitan guru bisa membantu. 2) Pembelajaran ini akan lebih maksimala jika menerapkan salah satu media pembelajaran efektif yaitu video visual untuk menyampaikan pembelajaran (Sujinah, 2020: 256);

3) Untuk mengatasi hal ini akhirnya guru meminta bantuan rekan sejawat untuk bertukar jam pelajaran sehingga proses perekaman PPL bisa berjalan lancar.

Praktik Pembelajaran Inovatif dilaksanakan pada Janari 2024 dengan langkah- langkah sebagai

berikut.

a.        Orientasi Masalah,

Pada orientasi masalah, guru menayangkan video visual teks cerpen berjudul Perjuangan Seorang Ibu. Kemudian peserta didik dan guru mendiskusikan unsur intrinsiknya untuk mendapatkan makna tersirat dan tersurat.

b.        Mengorganisasikan Peserta Didik untuk Belajar,

Pada tahap ini peserta didik menerima LKPD dan cerpen berjudul Anak Kebanggaan untuk didiskusikan bersama kelompoknya.

c.        Membimbing Penyelidikan,

Pada tahap ini, peserta didik dibimbing guru jika mengalami kesulitan dalam berdiskusi, guru juga menilai sikap dan rubrik yang telah disampaikan.

d.        Mengembangkan dan Menyajikan Hasil Karya,

Peserta didik menggabungkan informasi dari kelompoknya dan mempresentasikannya.

e.   Menganalisis dan Mengevaluasi Proses Pemecahan Masalah,

Peserta didik menyimpulkan hasil diskusi dan materi pembelajaran.

 

Refleksi Hasil dan Dampak

Berdasarkan asesmen dari pembelajaran yang sudah dilakukan, diperoleh data sebagai berikut.

  1. Kognitif

 

No

Kriteria

Hasil

1

rata-rata

86

2

jumlah peserta didik yang tuntas

29

3

persentase tuntas

91%

4

jumlah peserta didik tidak tuntas

3

5

persentase tidak tuntas

9%

6

nilai tertinggi

100

7

nilai terendah

70

Tabel 1. Hasil kognitif peserta didik

 

Berdasarkan tabel tersebut dapat diketahui nilai rata-rata siswa adalah 86. Siswa yang tuntas (KKM 70) berjumlah 29 dengan persentase 91% dan siswa yang mendapat nilai di bawah KKM sebanyak 3 siswa dengan presentase 9%. Hal ini berarti siswa yang tuntas sudah lebih dari 75%. Nilai tertinggi adalah 100 dan nilai terendahnya 70.

 

  1. Kerja sama

 

Kategori

Jumlah siswa

Persentase

Berkembang sesuai Harapan

15

46,88%

Sangat Berkembang

17

53,12%

Tabel 2. Sikap kerja sama

Berdasarkan tabel tersebut dapat diketahui peserta didik yang berkembang sesuai harapan berjumlah 15 dengan persentase 46,88% dan siswa yang mendapat sangat berkembang berjumlah 17 dengan presentase 53,12%.

 

  1. Berpikir Kritis

 

Kategori

Jumlah siswa

Persentase

Berkembang sesuai Harapan

13

40,63%

Sangat Berkembang

19

59,37%

Tabel 3. Sikap Berpikir Kritis

Berdasarkan tabel tersebut dapat diketahui peserta didik yang berkembang sesuai harapan berjumlah 13 dengan persentase 40,63% dan siswa yang mendapat sangat berkembang berjumlah 19 dengan presentase 59,37%.

 

Selain hasil kognitif dan sikap yang diperoleh, juga terdapat dampak positif pada pencapaian hasil pembelajaran.

  1. Peserta didik lebih tertantang dalam mencari informasi dan pengetahuan karena guru menggunakan model PBL dalam pembelajaran.
  2. Peserta didik memiliki motivasi untuk belajar dan meningkatkan minat baca dengan melihat tayangan video cerpen.
  3. Pembentukan kelompok dengan metode diskusi dan pesentasi, menjadikan peserta didik lebih mudah memahami dan menyelesaikan tugas yang diberikan, peserta didik dapat aktif bertukar pikiran atau pendapat, sehingga evaluasi cerpen yang dihasilakan menjadi lebih maksimal.
  4. Presentasi yang dilakukan peserta didik, menjadikan peserta didik lebih tertantang dan lebih berani mengungkapkan pendapat dan hasil diskusinya.

 

Dari proses pembelajaran yang sudah dilakukan, dapat dikatakan guru melaksanakan pembelajaran dengan efektif dan berhasil. Hal ini bisa terlihat dari data-data berikut. 1) Rata- rata siswa adalah 86. 2) Peserta didik yang tuntas berjumlah 29 dengan persentase 91%. 3) Semua peserta didik sudah berada pada tahap berkembang sesuai harapan dan sangat berkembang.

 

Penerapan pembelajaran ini membawa respon yang beragam:

  1. Menurut observer (Guru Bahasa Indonesia), pembelajaran yang telah dilaksanakan sudah baik sehingga dapat menjadi referensi dalam meningkatkan minat membaca peserta didik.
  2. Menurut beberapa peserta didik, pembelajaran yang telah dilaksanakan sangat menarik dan dapat menumbuhkan minat baca. Mereka lebih senang membaca dengan berbantuan media audio visual dengan backsound dibandingkan harus membaca teks dengan tulisan saja.

 

Rencana tindak lanjut dari best practice ini adalah:

  1. Memilih teks cerpen dengan struktur yang jelas.
  2. Memilih teks cerpen dengan akhir cerita yang jelas.

 

BAB IV PENUTUP

 

 

Simpulan

Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa dari proses pembelajaran menggunakan model PBL dan media video visual pada pembelajaran membaca cerpen dapat dikatakan efektif dan berhasil. Hal ini terbukti dari rata-rata siswa adalah 86, peserta didik yang tuntas berjumlah 29 dengan persentase 91%, semua peserta didik sudah berada pada tahap berkembang sesuai harapan dan sangat berkembang.

 

Ø Mempunyai dampak bagi peserta didik:

Penggunaan media pembelajaran yang berbasis TPACK dalam bentuk video yang ditampilkan dalam slide powerpoint berdampak memudahkan peserta didik dalam mempelajari dan memahami materi, lebih bersemangat dan tidak cepat bosan. Sehingga kemampuan berpikir analisis peserta didik dapat ditingkatkan.

Hasilnya efektif peserta didik lebih bersemangat, lebih berani dalam menyampaikan pendapat selama kegiatan dikusi dalam pembelajaran, terlihat dari hasil dari pembelajaran peserta didik sesudah melakukan kegiatan pembelajaran. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan kegiatan refleksi saat kegiatan pembelajaran berlangsung.

Faktor keberhasilan pembelajaran ini ditentukan dari penguasaan guru terhadap model dan metode pembelajaran, media pembelajaran dan langkah - langkah pelaksanaan dalam rancangan Modul ajar yang telah dibuat. Faktor keberhasilan dapat dilihat dari meningkatnya jumlah peserta didik yang mencapai ketuntasan hasil belajar.

 

A. Saran

Berdasarkan hasil praktik pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Project Based Learning berikut disampaikan rekomendasi :

  1. Peserta didik diharapkan untuk meningkatkan kemampuan berfikir tingkat tinggi dalam pembelajaran. Kemampuan belajar seperti ini dapat membantu peserta didik menguasai materi secara lebih mendalam.
  2. Guru seharusnya tidak hanya melakukan proses pembelajaran dengan mengacu buku peserta didik dan buku guru yang telah disediakan, tetapi perlu melakukan beberap inovasi sesuai latar belakang peserta didikdan situasi kondisi sekolahnya.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Cahyaningsih, Ujiati dan Anik Ghufron. (2016). Pengaruh Penggunaan Model Problem-Based Learning terhadap Karakter Kreatif dan Berpikir Kritis. Jurnal Pendidikan Karakter. Vol. 7 No. 1 hal

104-115.                               Diakses                                dari https://journal.uny.ac.id/index.php/jpka/article/view/10736

Krisdayanti, P. S., & Kusmariyatni, N. (2020). Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make A Match terhadap Minat Baca. MIMBAR PGSD Undiksha, 8(2), 159-169.

Sayuti, Suminto. 2000. Berkenalan dengan Prosa Fiksi. Yogyakarta: Gama Media.

Simanjuntak, Imelda U.V. 2018. Jurnal Ilmiah Teknologi Informasi Terapan. Vol IV, ISSN : 2407- 3911. Sudarsana, U. (2014). Pembinaan minat baca. Universitas Terbuka, 1(028.9), 1-49.

Sujinah. (2020). Tantangan dan Solusi Pembelajaran Bahasa Indonesia Di Era Covid-19. Jurnal. Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Muhammadiyah Surabaya.

Warsono & Hariyanto. (2013). Pembelajaran Aktif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, diakses dari https://serupa.id/problem-based-learning/

 

LAMPIRAN ( FOTO DOKUMENTASI )

 

 

       
       

 

 

 

 
   

 

 

 

 

 
   

 

 

BUKTI UNGGAH PUBLIKASI

      Bookmark and Share